Mobilitas Berkelanjutan

 

Mobility 2

Belajar dari Seoul: Training Mobilitas Berkelanjutan mementingkan kesuksesan Pemerintah Kota Seoul dalam membangun kembali sistem transportasi publik.

PEMBANGUNAN transportasi dan lalu lintas merupakan tanggung jawab kota yang bersifat esensial. Mobilitas urban berperan fundamental dalam mencapai ekonomi, sosial, lingkungan, serta pengembangan kultural yang menguntungkan dalam sebuah kelompok atau daerah urban yang luas. Sayangnya, sistem transportasi urban, khususnya di negara-negara miskin, belum memenuhi kebutuhan akan keselamatan, kesehatan, pemerataan sosial dan pelayanan masyarakat dengan mobilitas tinggi yang ramah lingkungan. Hal ini merupakan sebuah rintangan bagi perkembangan.

Terlebih, sistem transportasi dewasa ini, khususnya penggunaan kendaraan pribadi pada beberapa kota di negara-negara industri, tidak lagi peduli terhadap konsumsi masif sumber energi tak terbarukan serta emisi gas buang. Pola Sustainable Mobility atau Mobilitas yang Berkelanjutan di wilayah perkotaan dunia harus bergantung terhadap tanggung jawab pemanfaatan teknologi secara optimal serta perencanaan dana organisasi, akan tetapi di samping itu juga harus terikat dengan pengembangan kultur Mobilitas Berkelanjutan oleh para pengguna transportasi.

Paham bahwa kerja sama antar kota dapat menggiring penyebaran tangkas atas solusi-solusi tanggap terhadap keberlangsungan lanjutan sistem transportasi urban, maka UCLG ASPAC bekerja sama dengan Seoul Human Resource Development Cente (SHRDC) mengenalkan penerapan sistem transportasi milik Seoul. UCLG ASPAC dan SHRDC mengadakan Sustainable Mobility Training atau Pelatihan bagi Mobilitas Berkelanjutan pada bulan September 2015 di Seoul, Korea Selatan.

Training perdana yang dirancang oleh UCLG ASPAC akan diikuti oleh para pemerintah daerah Indonesia yang menyusun Local Governement Transport Officer Forum (LGTOF) atau Forum Pegawai Perhubungan Pemerintahan Setempat. Forum tersebut sebagai platform baru bagi para pegawai resmi Indonesia baik di ranah nasional maupun wilayah sebagai tantangan masalah transportasi yang meningkat di wilayah urban. LGTOF, beserta siasat adopsi penerapan milik Seoul, memulai pertemuan pertama pada bulan Maret 2016 di Kota Salatiga, Indonesia.

Silakan lihat laporan lokakarya di sini.

Kunjungi SHRDC online.